Masa lalu, bagi sebagian orang adalah hal yang paling di benci.
Masa lalu, bagi sebagian orang sama dengan emosi.
Melupakan menjadi tujuan utama.
Saya hanya ingin mengingat masa lalu, bukan untuk membenci, bukan pula untuk membangkitkan emosi.
Ini tentang kisah masa laluku yang sempat indah, kemudian suram dan berakhir indah :)
Berawal dari sebuah sekolah yang memiliki tingkat pengamanan yang cukup ketat. Sekolah yang merangkap asrama. Ya, aku dan dia berasal dari sekolah yang sama.Belum genap satu tahun aku disana, dan dia, sudah melebihi ku setahun. Kami berhubungan, bukan seperti teman biasa, tetapi berpacaran. Walaupun tingkah kami biasa saja, tapi kami memiliki rasa yang berbeda dibandingkan dengan yang lainnya, maka kami sebut berpacaran.
16 Juli 2003, kami resmi menjalin hubungan. Dia menyatakan suka dengan tingkahnya yang konyol. Saat itu, aku sedang belajar malam di salah satu kelas. Tiba-tiba ia menghampiriku dari luar jendela. Awalnya aku takut, karena di sekolahku, sesama lawan jenis tidak boleh bertemu ditambah lagi mengobrol jika bukan untuk hal penting. Tapi, karena desakan teman-temanku, akhirnya aku memberanikan diri menghampirinya dari dekat jendela. Aku di dalam dan ia di luar jendela. Tiba-tiba, dengan santainya ia berkata “I love you”. Hahaha..mungkin sekarang ini pernyataan cinta seperti itu dianggap norak. Tapi, saat itu, gaya seperti itulah yang sedang ngetrend (mungkin). Tidak munafik, aku senang sekali. Senyum Ge-er campur malu. Bagaimana tidak? Itu adalah kali pertamanya aku di tembak cowo. Namun, aku tidak langsung menjawabnya. Tetapi, aku menyuruhnya untuk menunggu hingga dua hari ke depan.
Malam kedua, aku berkumpul di corridor asrama dengan kelima teman ku yang lain. Kami ngobrol sekaligus rapat yang sebenarnya ini tidak penting. Seorang kakak kelasku yang dekat dengan ku bertanya, apakah aku akan menerima dia(sang lelaki yang menembakku kemarin) atau malah akan menolaknya. Dan aku pun hanya bisa menjawab “bingung”. Karena jawaban ku yang tidak pasti, akhirnya sang kakak menyuruh kami melakukan voting. Hasilnya, 3 orang memilih untuk menerimanya, dan 2 orang lagi memilih untuk aku menolaknya. Karena dalam voting suara mayoritas adalah pilihan yang harus di ambil, akhirnya aku memutuskan untuk menerimanya.
Keesokan harinya, matahari sedang memancarkan sinarnya yang terik, tepat di atas kepalaku. Suasana sekolah sedang sepi. Aku pergi ke sebuah pagar samping kamar mandi kelas. Tepat di depanku, ada dia. Dia yang dua hari lalu menembakku. Saat itu juga, aku bilang iya untuk jadi pacarnya. Aku senang, dan ia pun terlihat begitu sepertinya. Akhirnya, kami resmi berpacaran sejak hari itu. 16 Juli 2003.
Liburan sekolah pertamaku, aku ingat sekali. Saat itu kami pulang ke rumah masing-masing. Rumah kami berjauhan. Sesampainya aku di rumah, hape ku langsung bordering tanda sms masuk. Dan betapa senangnya aku, mendapat sms dari sang pacar, “kangen kamu..” :D
Itu sms pertama ku dari dia.
Bulan demi bulan kami lalui dengan status yang sebenarnya di larang oleh peraturan sekolah. Banyak hal konyol yang kami lakukan. Menulis puluhan surat dalam bentuk kertas maupun buku. Sembunyi-sembunyi di tempat yang sepi untuk sekedar bertemu atau yang biasa di bilang ngedate.haha
Ada satu peristiwa yang paling aku ingat sampai sekarang. Saat itu, pikiran ku memang sedang bego-begonya. Yaa layaknya anak kecil lah yang labil :p
Sore itu aku bermain basket, sebelumnya aku menitipkan pesan kepada seorang temanku untuk disampaikan kepada dia pacarku di kampus sebelah. Selesai main, aku mendapat laporan dari temanku.
“ndi, udah gue sampein, tapi pas gue bilang ‘ka, indi minta putus’ dia marah banget loh ndi, bola basket dia lempar gitu aja ke lapangan, terus langsung pergi ke asrama, gue ampe takut”
Hah? Responku hanya kaget, tidak menyangka kalau dia akan sampai seperti itu. Padahal, awalnya aku hanya ingin mengetes dia, apa dia percaya begitu saja? Aku hanya ingin melihat responnya yang menunjukkan kalau dia memang benar sayang aku. Tapi, dia malah marah. Aku ketakutan. Saat itu pula aku pergi ke kamar kosong dan nangis. Entah kenapa saat itu aku gampang sekali menangis. Sampai akhirnya aku demam hingga tiga hari, mungkin karena memang keadaanku saat itu sedang kecapaian main basket di tambah lagi ada kejadian seperti itu, ya lengkaplah sudah. Aku pun drop. (lebay abis) haha
Tak lama, sekitar bulan agustus atau september, ada peristiwa yang lebih parah dari itu. Saat itu aku baru saja menyelesaikan liburan semesterku dan kembali lagi ke sekolah. Siangnya, aku mampir sebentar ke kampus dia untuk memberikan kado untuk ulang tahunnya. Ku titipkan semua kado kepada salah seorang temannya. Malam harinya, setelah solat Isya, murid” di kampus ku, baik laki-laki maupun perempuan, di kumpulkan di musola. Sang Guru tiba-tiba membacakan sebuah surat yang tidak lain dan tidak bukan adalah milikku, surat yang belum sempat aku kirim kepada pacarku. Betapa malunya aku. Dan dia menyatakan masih ada 11 surat lagi yang belum dibaca. Kemudian aku pun di suruhnya mengaku. Aku berdiri, dan ia tersenyum kecut. Mata teman” ku pun semua tertuju padaku. Ada tatapan yang menyiratkan rasa kasihan kepadaku, ada yang menyumpah serapah dalam diam “mampus loh ndi”. Intinya saat itu aku sangat malu. Kakak kelas benar-benar sinis padaku, menyindirku sepanjang hari. Kesal, dendam, malu semua campur aduk. Namun, aku menerimanya. Yang aku pikirkan, bagaimana keadaannya di kampus seberang sana?
Dan ternyata, keadaannya pun tak jauh beda dengan ku. Yasudahlah, ini sudah jadi resiko kami, fikirku.
Tak genap lima bulan, ia memutuskan hubungan. Aku ingat sekali. Sebelum ia memutuskan hubungan, ia memang sangat cuek. Seperti tak peduli bahwa aku ini masih pacarnya. Namun, hari itu aku mendapat kabar dari temannya kalau ia sakit dan belum kembali ke sekolah. Aku pun langsung ke wartel dan meneleponnya untuk menanyakan kabar. Awalnya, ia benar” tidak mau menerima telpon dari ku. Namun, sepertinya ia di paksa oleh sang kakak untuk menerima telpon ku. Bukan kalimat yang ku mau yang keluar dari mulutnya. Tiba-tiba saja ia meminta untuk putus saja. Aku kaget. Tidak menyangka. Tapi aku sadar, semuanya memang tidak dapat dipaksakan. Pasrah. Kami pun putus.
tak lama, ada seorang teman yang bilang, barang" yang aku kasih ke dia, dia kasih lagi k temannya. (beuh..yg ini nyolot abis)
Hahahaha itulah kisah konyol ku.
Kamu tau? Sejak saat itu, aku sangat membencinya. Sering terlintas di pikiranku untuk balas dendam. Aku tidak munafik, aku sakit hati, sakit sekali. Pertama kalinya mencintai dan menyayangi orang, sudah harus merasakan sakit hati. Memang semua itu bagi kami adalah cinta monyet. Pacaran yang tidak serius, hanya main” mungkin. Tapi, saat itu aku benar-benar sayang dia, walaupun tidak baginya. Bodoh. Perempuan memang terlalu sensitive perasaannya. Haha
Sekarang, lima tahun berlalu. Semua nya sudah berubah. Namun, aku tetap tidak pernah melupakan masa lalu itu. Yang berubah hanya waktu dan rasa benci serta dendamku. Aku sudah tidak lagi membencinya, dan tidak pula dendam padanya. Aku malah menyayanginya sekarang. Meski bukan rasa sayang seperti lima tahun yang lalu. Aku menyayanginya karena ia kakak ku, kakak yang telah menganggapku adik perempuannya. Entah berapa puluh adik yang Ia punya, aku tetap bersyukur, hubungan ku tidak lama suram. Aku dan dia, baik-baik saja, malah semakin baik sekarang. Dan akhirnya, kisahku ber-ending indah. Terimakasih kakak :)
I LOVED YOU DEARLY, MY Brother… ;)
lol, Ceritanya bagus ndi,. #ketawa guling2 pas baca yang di "tengah" hehehe,. tapi romantis juga yah hahaha... :)
BalasHapusLike This deh,.. salam buat your brother klo ketemu :)
wah indi, dasar anak kecil...
BalasHapusseru sih tapi...hahaha