Cari Blog Ini

Pages

Sabtu, 18 Desember 2010

MENCULIK MIYABI

MENCULIK MIYABI


Oke. Siapa yang tidak kenal dengan dua kalimat diatas. Judul film yang mengundang banyak kontroversi sebelum bahkan sesudah ditayangkan. Tapi, disini saya bukan ingin membahas tentang sebuah kontroversi. Saya hanya akan sedikit bercerita tentang ke’nikmat’an yang saya rasakan ketika nonton film tersebut.


Awalnya, saya tidak berniat sama sekali untuk menonton film itu. Sejak lima hari yang lalu, saya dengan ketiga teman saya merencakan untuk menonton manusia setrika-iron man. Tapi, baru malam ini kami bisa meluangkan waktu untuk pergi menonton bersama. Pertama, kami mengunjungi empire XX1. Dari pertama masuk tempat parkir, saya sudah melihat betapa ramainya kendaraan yang terparkir, apalagi di dalam? Mungkin lebih ramai. Dan ya, memang benar, keadaan di dalam studio lebih ramai. Saya mulai khawatir tidak kebagian tiket malam ini. Dan ternyata benar saja, di atas loket pembelian tiket terpampang jelas tulisan “tiket iron man 2 hari ini sudah habis”. Kami kecewa. Lalu kami berunding sejenak di sofa dekat kaca yang langsung menembus pemandangan mobil-mobil yang berjejer rapi di luar.

Kira-kira begini lah perbincangan kami:

Gimana ini? Apa kita harus pulang? Jangan. Sayang banget udah keluar malem gini, tapi gak jadi nonton. Terus? Mau nonton apa? Wah, kalo film Hachiko gue udah nonton. Yang laennya gak seru kayanya. Terus mau nonton apa?ke studio 21 aja yuk. Ntar dulu, kita buka 21cineplex.com. jam 21.10 “menculik miyabi”. Gimana nih? Mau nonton ini aja? Jangan dong, gila aja, masa gue nonton itu? Kaga suka, ngeri. (saya menolak). Tenang aja ndi, filmnya gak kaya gitu ko. Iyah ndi, udah nonton itu ja lah, daripada gak jadi nonton. Iya iya, terserah kalian deh, gue ngikut ajah. (akhirnya, saya menyerah).


20.50 kita berangkat menuju amplas. Tepat pukul 21.10 kita sampai tujuan. “pertunjukan film di teater empat sudah dimulai. Bagi yang sudah memilki tiket harap segera memasuki teater empat.” ‘Penyiar radio’ bioskop sudah cuap cuap, “menculik miyabi” sudah dimulai.

Udah mulai filmnya, masih mau nonton po? Sayang tau. (saya mencari-cari alasan). Baru mulai ndi, gak papa.


Akhirnya, kami mengantri. Masyarakat teater 4 ternyata sudah sangat ramai, kami kebagian kursi tengah agak di depan. Ya, ternyata film baru saja di mulai. Kami tidak begitu telat. Saya mulai mensugesti pikiran saya kalau film ini bagus dan menyenangkan, namanya juga komedi.

Film terus berjalan, ternyata saya menikmatinya. Bukan karena body sang miyabi dan mi you bi yang antic. Tapi, karena tingkah laku 3 pria idiot di samping saya. Hahaha. tapi ternyata, tingkah laku 3 pria idiot di samping saya dapat dikalahkan oleh 3 pria looser di dalam film yang kami tonton. Hampir di setiap adegan mereka, para penonton seantero studio tertawa terbahak-bahak, mereka sangat konyol. Saya pun tidak melewatkan kesempatan untuk ikut tertawa. :D


Wow. NIKI TIRTA ??? o.O

Seorang anggota 3 pria looser itu adalah NIKI TIRTA. Artis idola saya sejak saya SMP. Kenapa saya mengidolakannya? Pertama, karena dia ganteng. Kedua, dia cute. Ketiga, dia manis. Ke empat, dia keren. Wowowowowowow. Saya langsung antusias dengan film ini. Saya mulai menikmati film ini karena dia. Ya, kenikmatan yang saya rasakan adalah ketika saya melihatnya berakting dengan sangat cool di film itu. Hehehe


Oh ya, hampir saja saya melewatkan untuk bercerita tentang film itu. Saya tidak pernah membaca synopsis film itu. Menonton trailer nya pun saya tidak pernah. Tapi, saya sudah langsung bisa menangkap alur ceritanya dari awal hingga akhir. Kisah film ini menurut saya standar, ya, seperti FTV” di SCTV saja. Tapi, salah satu pemeran utama dalam film ini lah yang membius banyak orang untuk menonton film ini, yaitu MIYABI. Siapa yang tidak mengenal MIYABI? Artis Jepang yang terkenal karena parasnya yang cantik dan keberaniannya untuk memerankan adegan-adegan tak senonoh. So, setelah saya tonton, peran MIYABI di sini tidak terlalu banyak. Adegan-adegan yang ia perankan juga tidak terlalu panas seperti yang saya atau mungkin banyak orang bayangkan. Lalu, apakah para penonton pria kecewa dengan hal ini? Bisa saja iyah atau bisa saja tidak bagi mereka yang memang tidak begitu mengidolakan artis yang satu ini.


Terlepas dari kisah film “menculik miyabi” ini, saya sangat menikmati film ini karena DIA. Tak sampai tega saya memejamkan mata ketika film berlangsung karena DIA. Tak berhenti saya merdecak kagum ketika melihat parasnya yang membuat saya berandai-andai. Hahaha

SOSOK SEORANG BANG JOE

Suasana menjelang magrib. Langit sore hari ini memang sedang tak bersahabat. Sejak tiga jam yang lalu, hujan sudah meramaikan kota. Namun, aku dan seorang temanku tetap harus pergi menemui klien. Ya, kami berdua adalah mahasiswa skm bulaksumur ugm yang bergerak di divisi ikrom-iklan dan promosi. 30 mei nanti UKM kami akan mengadakan acara ulang tahun ‘aksi kreasi’. Kami membutuhkan stand kuliner untuk mengisi acara. Kami sebagai Danus-dana usaha-ya seperti inilah kerjanya, mencari sponsor dan partnership. Jam empat sore kami sudah membuat janji dengan seorang Klien, tetapi karena hujan, kami sedikit terlambat. Jam empat lewat 15 menit kami baru melaju ke tempat klien di Jakal KM 6,8. Sekitar pukul setengah lima sore, kami sampai. Akan tetapi, orang yang kami cari ternyata tidak ada.

“misi mas, mau ketemu mas dwi, ada?”
“oh, mas dwi nya lagi pergi sebentar mba, tunggu aja dulu, telpon aja”
“oh gitu, yauda mas, pesen es mocca satu ya mas”
“ok”

Mas Dwi, adalah klien yang ingin kami temui. Angkringan es merupakan usaha yang digelutinya. Aku menyebutnya angkringan karena tempatnya di pinggir jalan dan tidak terlalu besar, mirip angkringan pada umumnya. Kami pun duduk di atas kursi plastic yang sudah di sediakan. Ketika kami menengadahkan kepala 45 derajat ke atas, kami sudah bisa melihat ada empat blender, keju kraft bertumpuk-tumpuk, dan susu cair kaleng yang banyak. Kami pun menikmati cara karyawan es tersebut mengolah es yang kami pesan.


Tak lama di sela kami menunggu, ada seorang laki-laki berkulit agak hitam, rambut pendek (baru tumbuh sedikit sehabis di cepak), tidak terlalu tinggi, dan kurus, dengan lengan penuh tatto datang memasuki angkringan tersebut. Sekilas mungkin perawakannya agak menyeramkan, tetapi ternyata orangnya sangat humoris. Karena banyak pelanggan yang memesan, ia pun ikut serta membantu. Setelah pelanggan mulai sepi lagi, kami coba untuk membuka obrolan agar Susana tidak ‘krik..krik..’ alias sepi.

“mas, kenapa nama es nya ‘bang Joe’ ?”
“ouh, awalnya dari nama saya mba,”
“Loh? Ouh..mas yang punya toh?”
“iyah mba..”
“terus, mas dwi itu siapa mas?”
“mas dwi itu bagian marketing kami mba”

Ya, itulah awal obrolan kami dengan sang owner ‘BANG JOE’. Sungguh aku sendiri tidak menyangka dia yang ku kira sedikit menyeramkan ternyata pemiliknya, padahal pertama kali dia datang aku sempat mikir dia preman daerah situ, hehe.

BANG JOE

Namanya Joe, kami memanggilnya mas Joe. Entah nama aslinya Joko, Joyo atau apalah, dia tidak mau memberitahu. Pria muda ini berumur 30 tahun, asli bandung. Wow, orang Bandung bisa buka usaha hebat di Jogja. Itulah kesan pertama ku ketika mendengar dia asli sunda. ‘Bang Joe’, nama angkringan es yang ia bangun sendiri. Siapa yang tidak tahu es ini? Angkringan ini sudah tersebar sampai negeri Solo. Di Jogja saja, lebih dari lima tempat di isi oleh es Bang Joe. Kita dapat dengan mudah menemuinya. Bisa dibayangkan berapa omsetnya pertahun dengan banyaknya cabang yang Mas Joe miliki. Pasti sangat besar. Es ini mungkin hanya berwadahkan gelas plastic, bentuknya seperti milkshake, dibubuhi susu coklat, butiran coklat dan keju di atasnya. Tetapi, Bang Joe tak pernah sepi pelanggan.

ANAK JALANAN

Mas Joe mungkin sekarang sudah tercukupi hidupnya, malah bisa menghidupi orang lain. Namun, tidak pada masa lalunya. Mas Joe adalah satu dari ribuan anak yang kurang beruntung. Awalnya, ia hanya seorang anak jalanan. Bukan anak jalanan yang bawaannya mobil, bukan juga anak jalanan yang bawaannya motor, bukan. Sepedapun Mas Joe tak punya. Ia hanya seorang anak jalanan yang bermodalkan semangat.

Ia tak pernah mencicipi bangku SMA atau Kuliah. Terakhir ia sekolah, di sebuah SMP di Bandung, tempat asalnya. Setelah itu, ia coba-coba untuk merantau ke Jogja.

“di Jogja tinggal dimana mas?”
“nebeng di rumah temen mba, “

Ya, ia bersyukur masih memiliki teman yang berbaik hati membagi rumahnya.
Beberapa waktu kemudian, ia sadar tidak bisa menumpang terlalu lama, ia harus berjuang untuk tidak bergantung dengan orang lain. Suatu ketika, ada seorang temannya yang memiliki modal dan ia menyuruh Mas Joe untuk membuat sebuah usaha serta mengolahnya. Dari sinilah awal perjuangan mas Joe membangun ‘es Bang Joe’.

RAMBUT GIMBAL

Sekilas aku ingin bercerita tentang perawakan Mas Joe dulu. Dulu, sekitar tujuh tahun yang lalu, rambut mas Joe tidak pendek seperti sekarang, tetapi Gimbal. Ya, kamu bisa bayangkan rambut almarhum Mbah surip, seperti itulah. Rambut gimbal yang panjang. Rambutnya tak begitu saja menjadi gimbal. Pada dasarnya ia memilki rambut yang lurus, tetapi ia gunakan alat untuk menggimbal rambutnya sendiri. Dan ia berhasil bertahan dengan rambutnya selama tujuh tahun.

“awal aku mendirikan es Bang Joe ini aku masih gimbal loh mba.”
“ouh…kenapa es nya gak di namain es Bang Gimbal ja mas?”
Hahahahha kami tertawa, aku, temanku dan mas joe. :D
“ya, kalo udah pendek kaya sekarang gimana mba, gak bisa di bilang bang gimbal lagi ntar”
“iyah juga ya mas, hehe..emang gimbalnya kaya gimana sih mas?”
Perlahan ia keluarkan sebuah foto dari dompetnya. Ia pun menunjukkan fotonya pada kami. Wow, ada seorang wanita cantik berkacamata, berambut panjang dan sedikit agak gemuk duduk di sebelahnya.
“ini siapa mas? Pacar?”
“iyah..hehe”
“wah, cantik mas.”
“amiiin..”

Iseng kutanya dengan sampo apa ia mencucui rambutnya, apakah dengan sampo kucing seperti halnya almarhum mbah surip gunakan? Ternyata tidak, ia menomor satukan konsumen.

“Kalau pakai sampo kucing, ntr konsumen pada kabur semua kebauan, ya pake sampo bisaa aja mba”
Begitulah perbincangan kami tentang rambut Gimbal.

TEMAN

Membangun sebuah usaha bukan tanpa pengorbanan. Mas Joe yang membangun sendiri usahanya dengan modal dari seorang teman. Tetapi, setelah modal dapat dikembalikan, hubungan pertemanan Mas Joe dan sang pemilik modal agak merenggang. Menurut mas Joe, temannya tidak puas dengan hasilnya, bahasa kasarnya ingin meminta lebih dari ini. Akhirnya, Mas Joe memisahkan diri dari temannya tersebut. Akhirnya, sampai sekarang mas Joe meneruskan usahanya ini sendiri tanpa ada hutang dengan orang lain.

Ya, bagi Mas Joe ini adalah tantangan terberatnya. Menurutnya, teman ya teman, tidak ada yang namanya bekas teman. Kalau sekedar hubungan berteman, ya masih baik-saja, tetapi kalau dalam misi, mereka berdua sangat berbeda.

Mas Joe adalah seorang teman yang memiliki rasa solidaritas tinggi. Dari masalahnya dengan sang pemiliki modal, kita bisa lihat, ia tetap berjuang untuk menjalin pertemanan meski berbeda misi yang sebenarnya hampir menjauhkan dia dengan temannya itu.

Selain itu, Mas Joe sangat solider dengan teman sesama perantauan dari Bandung. Semua karyawannya samapi di Solo, adalah temannya sesama perantau dari Bandung. Ia tidak pernah mau menyebut teman yang menjadi karyawannya sebagai ‘karyawan’, tetapi teman ya teman, tidak ada karyawan. Salut, aku sangat salut dengan prinsipnya.

Keberhasilan atas usahanya tersebut tidak Ia nikmati sendiri. Dulu, ia menumpang di rumah temannya, tetapi sekarang, ia sudah bisa memberi tumpangan orang lain di rumahnya sendiri.

Ya, banyak hikmah dan pelajaran yang bisa kita dapat dari seorang ‘Bang Joe’. Anak jalanan yang berubah menjadi pengusaha sukses walau tak memakan bangku SMA ataupun kuliah. Dengan semangat dan kerja keras kita bisa berhasil. Asal ada kemauan, semua dapat dengan mudah kita raih. Mimpi…ayo kita bermimpi !!! karena semua berawal dari mimpi.

Setelah Mas dwi datang, obrolan kami pun terhenti, dan kami beralih obrolan tentang tujuan kami kesana.

Selasa, 07 September 2010

My Ex ---> My Bro :p

Masa lalu, bagi sebagian orang adalah hal yang paling di benci.

Masa lalu, bagi sebagian orang sama dengan emosi.

Melupakan menjadi tujuan utama.


Saya hanya ingin mengingat masa lalu, bukan untuk membenci, bukan pula untuk membangkitkan emosi.

Ini tentang kisah masa laluku yang sempat indah, kemudian suram dan berakhir indah :)


Berawal dari sebuah sekolah yang memiliki tingkat pengamanan yang cukup ketat. Sekolah yang merangkap asrama. Ya, aku dan dia berasal dari sekolah yang sama.Belum genap satu tahun aku disana, dan dia, sudah melebihi ku setahun. Kami berhubungan, bukan seperti teman biasa, tetapi berpacaran. Walaupun tingkah kami biasa saja, tapi kami memiliki rasa yang berbeda dibandingkan dengan yang lainnya, maka kami sebut berpacaran.


16 Juli 2003, kami resmi menjalin hubungan. Dia menyatakan suka dengan tingkahnya yang konyol. Saat itu, aku sedang belajar malam di salah satu kelas. Tiba-tiba ia menghampiriku dari luar jendela. Awalnya aku takut, karena di sekolahku, sesama lawan jenis tidak boleh bertemu ditambah lagi mengobrol jika bukan untuk hal penting. Tapi, karena desakan teman-temanku, akhirnya aku memberanikan diri menghampirinya dari dekat jendela. Aku di dalam dan ia di luar jendela. Tiba-tiba, dengan santainya ia berkata “I love you”. Hahaha..mungkin sekarang ini pernyataan cinta seperti itu dianggap norak. Tapi, saat itu, gaya seperti itulah yang sedang ngetrend (mungkin). Tidak munafik, aku senang sekali. Senyum Ge-er campur malu. Bagaimana tidak? Itu adalah kali pertamanya aku di tembak cowo. Namun, aku tidak langsung menjawabnya. Tetapi, aku menyuruhnya untuk menunggu hingga dua hari ke depan.


Malam kedua, aku berkumpul di corridor asrama dengan kelima teman ku yang lain. Kami ngobrol sekaligus rapat yang sebenarnya ini tidak penting. Seorang kakak kelasku yang dekat dengan ku bertanya, apakah aku akan menerima dia(sang lelaki yang menembakku kemarin) atau malah akan menolaknya. Dan aku pun hanya bisa menjawab “bingung”. Karena jawaban ku yang tidak pasti, akhirnya sang kakak menyuruh kami melakukan voting. Hasilnya, 3 orang memilih untuk menerimanya, dan 2 orang lagi memilih untuk aku menolaknya. Karena dalam voting suara mayoritas adalah pilihan yang harus di ambil, akhirnya aku memutuskan untuk menerimanya.


Keesokan harinya, matahari sedang memancarkan sinarnya yang terik, tepat di atas kepalaku. Suasana sekolah sedang sepi. Aku pergi ke sebuah pagar samping kamar mandi kelas. Tepat di depanku, ada dia. Dia yang dua hari lalu menembakku. Saat itu juga, aku bilang iya untuk jadi pacarnya. Aku senang, dan ia pun terlihat begitu sepertinya. Akhirnya, kami resmi berpacaran sejak hari itu. 16 Juli 2003.


Liburan sekolah pertamaku, aku ingat sekali. Saat itu kami pulang ke rumah masing-masing. Rumah kami berjauhan. Sesampainya aku di rumah, hape ku langsung bordering tanda sms masuk. Dan betapa senangnya aku, mendapat sms dari sang pacar, “kangen kamu..” :D

Itu sms pertama ku dari dia.


Bulan demi bulan kami lalui dengan status yang sebenarnya di larang oleh peraturan sekolah. Banyak hal konyol yang kami lakukan. Menulis puluhan surat dalam bentuk kertas maupun buku. Sembunyi-sembunyi di tempat yang sepi untuk sekedar bertemu atau yang biasa di bilang ngedate.haha


Ada satu peristiwa yang paling aku ingat sampai sekarang. Saat itu, pikiran ku memang sedang bego-begonya. Yaa layaknya anak kecil lah yang labil :p


Sore itu aku bermain basket, sebelumnya aku menitipkan pesan kepada seorang temanku untuk disampaikan kepada dia pacarku di kampus sebelah. Selesai main, aku mendapat laporan dari temanku.


“ndi, udah gue sampein, tapi pas gue bilang ‘ka, indi minta putus’ dia marah banget loh ndi, bola basket dia lempar gitu aja ke lapangan, terus langsung pergi ke asrama, gue ampe takut”


Hah? Responku hanya kaget, tidak menyangka kalau dia akan sampai seperti itu. Padahal, awalnya aku hanya ingin mengetes dia, apa dia percaya begitu saja? Aku hanya ingin melihat responnya yang menunjukkan kalau dia memang benar sayang aku. Tapi, dia malah marah. Aku ketakutan. Saat itu pula aku pergi ke kamar kosong dan nangis. Entah kenapa saat itu aku gampang sekali menangis. Sampai akhirnya aku demam hingga tiga hari, mungkin karena memang keadaanku saat itu sedang kecapaian main basket di tambah lagi ada kejadian seperti itu, ya lengkaplah sudah. Aku pun drop. (lebay abis) haha


Tak lama, sekitar bulan agustus atau september, ada peristiwa yang lebih parah dari itu. Saat itu aku baru saja menyelesaikan liburan semesterku dan kembali lagi ke sekolah. Siangnya, aku mampir sebentar ke kampus dia untuk memberikan kado untuk ulang tahunnya. Ku titipkan semua kado kepada salah seorang temannya. Malam harinya, setelah solat Isya, murid” di kampus ku, baik laki-laki maupun perempuan, di kumpulkan di musola. Sang Guru tiba-tiba membacakan sebuah surat yang tidak lain dan tidak bukan adalah milikku, surat yang belum sempat aku kirim kepada pacarku. Betapa malunya aku. Dan dia menyatakan masih ada 11 surat lagi yang belum dibaca. Kemudian aku pun di suruhnya mengaku. Aku berdiri, dan ia tersenyum kecut. Mata teman” ku pun semua tertuju padaku. Ada tatapan yang menyiratkan rasa kasihan kepadaku, ada yang menyumpah serapah dalam diam “mampus loh ndi”. Intinya saat itu aku sangat malu. Kakak kelas benar-benar sinis padaku, menyindirku sepanjang hari. Kesal, dendam, malu semua campur aduk. Namun, aku menerimanya. Yang aku pikirkan, bagaimana keadaannya di kampus seberang sana?


Dan ternyata, keadaannya pun tak jauh beda dengan ku. Yasudahlah, ini sudah jadi resiko kami, fikirku.


Tak genap lima bulan, ia memutuskan hubungan. Aku ingat sekali. Sebelum ia memutuskan hubungan, ia memang sangat cuek. Seperti tak peduli bahwa aku ini masih pacarnya. Namun, hari itu aku mendapat kabar dari temannya kalau ia sakit dan belum kembali ke sekolah. Aku pun langsung ke wartel dan meneleponnya untuk menanyakan kabar. Awalnya, ia benar” tidak mau menerima telpon dari ku. Namun, sepertinya ia di paksa oleh sang kakak untuk menerima telpon ku. Bukan kalimat yang ku mau yang keluar dari mulutnya. Tiba-tiba saja ia meminta untuk putus saja. Aku kaget. Tidak menyangka. Tapi aku sadar, semuanya memang tidak dapat dipaksakan. Pasrah. Kami pun putus.

tak lama, ada seorang teman yang bilang, barang" yang aku kasih ke dia, dia kasih lagi k temannya. (beuh..yg ini nyolot abis)

Hahahaha itulah kisah konyol ku.

Kamu tau? Sejak saat itu, aku sangat membencinya. Sering terlintas di pikiranku untuk balas dendam. Aku tidak munafik, aku sakit hati, sakit sekali. Pertama kalinya mencintai dan menyayangi orang, sudah harus merasakan sakit hati. Memang semua itu bagi kami adalah cinta monyet. Pacaran yang tidak serius, hanya main” mungkin. Tapi, saat itu aku benar-benar sayang dia, walaupun tidak baginya. Bodoh. Perempuan memang terlalu sensitive perasaannya. Haha


Sekarang, lima tahun berlalu. Semua nya sudah berubah. Namun, aku tetap tidak pernah melupakan masa lalu itu. Yang berubah hanya waktu dan rasa benci serta dendamku. Aku sudah tidak lagi membencinya, dan tidak pula dendam padanya. Aku malah menyayanginya sekarang. Meski bukan rasa sayang seperti lima tahun yang lalu. Aku menyayanginya karena ia kakak ku, kakak yang telah menganggapku adik perempuannya. Entah berapa puluh adik yang Ia punya, aku tetap bersyukur, hubungan ku tidak lama suram. Aku dan dia, baik-baik saja, malah semakin baik sekarang. Dan akhirnya, kisahku ber-ending indah. Terimakasih kakak :)


I LOVED YOU DEARLY, MY Brother… ;)

INI KISAH KITA :)

betapa bahagianya gue punya temen kaya kalian..



sekitar 4 tahun yang lalu kita pisah..

masing-masing orang membawa dirinya berpencar menjauh dari "penjara"



beberapa dari kalian memang memilih untuk tetap tinggal dan mengabdi pada sang guru untuk membalas jasa atau bahkan sekedar mengisi kekosongan dengan pengalaman,

tapi tetap saja, kita berpisah.



7 tahun yang lalu kisah kita di mulai, dengan tampang konyol (kacamata bulat, celana cutbray, rambut cepak) yaaa banyak hal yang membuat tampang kita konyol..gaya seperti itu berlangsung hingga 3 tahun selanjutnya..



namun, bukan hanya gaya yg perlu kita ingat, prestasi?

wah angkatan kita tidak kalah dengan itu, dari mulai prestasi akademik sampai non-akademik kita punya,

tak perlu disebut, kalian tentu tau..



ada satu hal lagi yang paling tak terlupakan,

hukuman.

ya, mungkin tiap orang dari kita pernah mendapat hukuman, dari yang kecil hingga yang terberat sekalipun.



ok, jika mengulas hukuman yang pernah saya terima, mungkin tidak akan sanggup jari ini mengetik..

kita berbicara tentang apa yg pernah kita alami secara universal..

kalian ingat pernah di pukul pakai "misjab" atau sekali-kali pakai kayu (rotan mungkin) sebelum masuk ke masjid karena telat?

kalian ingat pernah di tampar oleh sang ustad karena kebegoan kalian melakukan kesalahan dan ketahuan?

kalian ingat pernah dipermalukan di depan semua murid karena kesalahan parah yang pernah kalian lakukan? (saya pikir ini hanya dialami saya, dan beberapa teman saja) haha

kalian ingat pernah bertengkar, adu mulut, saling caci dengan angkatan lain?

kalian ingat pernah di sidang hingga malam hari karena kesalahan konyol yang terkadang kita tak pernah melakukannya?

kalian ingat ketika dipergoki orang lain (kaka kelas, guru, atau siapa lah) sedang berjumpa dengan lawan jenis di siang atau malam hari? hahaha

dan masih banyak lagi hukuman yang pernah kita terima, tidak akan cukup jika saya tulis semuanya..



selama 3 tahun..kita hidup serba teratur dan di atur..

mulai dari kegiatan pagi hari hingga malam hari,

otak kita harus terbagi..pelajaran umum dan agama, semua harus serasi, harus adil, dan mampu kita pelajari.

dari bangun subuh hingga tidur malam hari, kita tidak pernah lepas dari bahasa asing, arab ataupun inggris,

walaupun sekali-kali kita sering mengacuhkannya dan berujung pada hukuman (lagi)

sebelum tidur, harus belajar malam di luar asrama, yg terkadang kita belajar di bawah lampu remang-remang karena lampu terang sudah padat manusia.



yaa semua penuh perjuangan.

perjuangan yang sampai mati pun tak akan pernah kita lupa.



kini, di umur kita yang semakin tua..

semua hal di atas sudah terlepas.

layaknya burung keluar dari sangkar,

kita senang, kita bebas.

bergaya dengan gaya jaman sekarang.

tak ingin di sebut norak atau kampungan dengan pakaian jaman dulu di penjara.

bagi sang lelaki, rambut pendek bukan jamannya lagi, memanjangkan rambut, inilah saatnya.

celana cut bray tak bisa di pakai lagi, mereka mengubahnya dengan celana beggy atau bray cut ? entah lah apa namanya..

dan sang wanita?

beberapa dari mereka benar" mengubahnya, walau beberapa lainnya masih berpegang teguh pada pendiriannya.

jilbab di perpendek, baju pun di perpendek sedikit,

rok mulai jarang di pakai, dan di ganti dengan celana jeans lurus ngetat.



tak jarang orang menilai kami berubah menjadi bejat.

sesungguhnya bukan itu yang kami mau,

kami hanya mengubah cover kami, bukan isi kami.

kepribadian kami masih tetap seperti dulu, tak ada yg berubah karena itu adalah kami, diri kami.

kami selalu berusaha menampilkan kami apa adanya.



teman-teman,

gathering kemarin sesungguhnya telah membuka mata saya lebar-lebar..

kita sudah semakin berubah, dewasa mungkin...umur semakin bertambah, cerita sejak 7 tahun yang lalu sudah menjadi kisah yang hanya bisa di kenang..

kita ini keluarga..

4 tahun ke depan, mungkin kita sudah punya keponakan, anak dari teman kita sendiri..

keluarga kita semakin lama semakin bertambah



ingat lah kawan, semua perjuangan kita adalah yang membuat kita sekarang seperti ini,

tanpa kita sadari, pahit manis di dalam penjara dulu, membuat kita dewasa, tegar dan mampu menghadapi kejamnya dunia luar

semua itu tak akan mudah di lupakan..

untuk itu, ingat kita slalu, jalin tali silaturrahmi yang erat..

jangan samapi putus hingga 5 tahun ke depan, sepuluh tahun, 20 tahun, 50 tahun

bahkan hingga ajal menjemput kita !

:)



"kehidupan di alam pondok..

laksana di penjara katanya..

tapi yang ku rasakan tak serupa..

malah ku rasakan cukup indah :))"


Selasa, 03 Agustus 2010

cuma iseng

Hari itu, kutemui dia di sebuah ruangan penuh orang, berjejer puluhan kursi yang menghadap layar putih di bagian depan ruangan. Dengan santai ia duduk di bagian belakang ruangan bersama beberapa temannya. Tak pernah kulihat mereka sebelumnya.

“harusnya ini kelasku, tapi mengapa banyak orang yang tak ku kenal?”

ku cari kursi kosong, menengok kanan dan kiri, akhirnya ku dapatkan kursi paling depan di samping teman-teman yang ku kenal baik. Namun, tak lama ku duduk, ada seseorang memanggilku dari jarak kurang dari 10 meter.

“Indi.” Teriak orang itu.

“ eh, ****, ko lo disini?” Tanya ku ketika ku sadar ia adalah teman SMA ku.

“iyah nih, gue ngambil mata kuliah ini.” Jawabnya

“ooh…yaudah deh, gue duduk dulu ya.”

Satu setengah jam berlalu. Dosen ganteng nan menyenangkan pun selesai memberikan kuliahnya pagi itu. Kelas sudah mulai sepi. Tinggal aku dan beberapa temanku serta **** dan teman-temannya yang belum ku kenal.

“eh ndi, ini kenalin temen-temen gue.” Ajak teman SMA ku itu.

Satu-satu memperkenalkan namanya. Dan mataku langsung tertuju pada salah satu temannya yang memiliki tatapan hangat menurutku, namun menyebalkan dengan sikapnya yang cuek dan jutek. Ya, dia adalah orangnya. Orang yang sejak saat itu hingga kini ku kagumi dan ku sukai karena Allah. ****** namanya.




--sebuah kisah--

Rabu, 28 April 2010

Takdir, Kualitas dan Potensi

Takdir, Kualitas dan Potensi

Kami adalah mahasiswa UGM yang pintar.

Kami adalah mahasiswa UGM yang cerdas.

Kami adalah mahasiswa UGM yang berpendidikan.

Kami adalah mahasiswa UGM yang ber”duit”.

Boleh saja semua kalimat bak pantun yang tak sistematis itu terlontar dari mulut orang-orang yang kurang akan ilmu pengetahuan, bukan IPA bukan IPS, melainkan ilmu pengetahuan seperti Experience. Mereka yang tak pernah berada pada posisi yang sama seperti kami. Mereka yang hanya melihat kami secara empiris. Mereka yang memliki perspektif Positivistik.

Kami sebagai objek yang berkaitan, ternyata tak demikian faktanya. Kami ya kami. Mahasiswa biasa yang di tempatkan Tuhan di dalam UGM lewat berbagai macam jalur. Entah PBS, UTUL, SNMPTN, atau PB” lainnya. Bukan masalah uang ataupun otak. Semua itu hanya jalan kami menuju takdir yang telah di tetapkan Tuhan.

Nyatanya, tidak sedikit dari kami yang mendapat kalimat-kalimat pembangun diri dari orang-orang yang lebih berpendidikan dan berpengalaman, yang tentunya memiliki posisi lebih tinggi di atas kami. “kalian tidak memiliki potensi. Kerja kalian sangat parah. Hasil ujian kalian buruk. Kualitas angkatan kalian tidak lebih baik. Presentasi kalian jelek. Atau lain sebagainya.” Ya, itulah sedikitnya kalimat demi kalimat yang pernah mereka lontarkan di hadapan kami. Tidak kah kalimat itu membuat perpektif kalian berubah wahai pencipta pantun tak beraturan ?

Beberapa dari kami tidak pernah menginginkan tempat kami yang sekarang, tapi beberapa dari kami malah menginginkannya dan merasa senang di dalamnya. Akan tetapi, tahukah kalian? Ada eksistensi kami yang menjadikan kami terjebak. Ya, kami menginginkan tempatkan kami pada awalnya, tapi tidak pada akhirnya ketika kami benar-benar berada dalam tempat tersebut. Kami terjebak. Itu lah yang sekarang ingin kami tekankan dalam kisah kami.

Kami merasa tak pantas. Cita-cita kami mungkin hanya akan menjadi cita-cita, bukan realita. Awalnya kami optimis akan meraihnya setelah kami menjadi sarjana. Tapi, seiring berjalannya waktu kami dalam menempuh pendidikan disini, kami merasa tidak cocok atau bahkan tidak pantas dengan apa yang sudah kami impikan. Impian hanyalah impian. Kami pesimis. “Tak memiliki kualitas dan potensi”. Itulah hal yang membuat kami begini. Kalimat itu yang selalu terngiang di telinga kami ketika seorang yang lebih berpendidikan dan berpengalaman mengatakannya depan kami. Namun, benarkah demikian adanya ? benarkah kami seperti itu ? lalu, mengapa mereka menerima kami di tempat mereka? Benarkah ini semua hanya keberuntungan belaka? Benarkah ini Takdir semata? Benarkah Takdir bertindak tanpa melihat kualitas dan potensi kami? Benarkah dan benarkah…….Semuanya membuat kami lelah. Membuat kami bingung apa yang seharusnya kami lakukan selanjutnya di tempat ini dengan nihilnya kualitas dan potensi kami?

Up Up Up and UP !!! Cheers…………… :)