Cari Blog Ini

Pages

Sabtu, 18 Desember 2010

MENCULIK MIYABI

MENCULIK MIYABI


Oke. Siapa yang tidak kenal dengan dua kalimat diatas. Judul film yang mengundang banyak kontroversi sebelum bahkan sesudah ditayangkan. Tapi, disini saya bukan ingin membahas tentang sebuah kontroversi. Saya hanya akan sedikit bercerita tentang ke’nikmat’an yang saya rasakan ketika nonton film tersebut.


Awalnya, saya tidak berniat sama sekali untuk menonton film itu. Sejak lima hari yang lalu, saya dengan ketiga teman saya merencakan untuk menonton manusia setrika-iron man. Tapi, baru malam ini kami bisa meluangkan waktu untuk pergi menonton bersama. Pertama, kami mengunjungi empire XX1. Dari pertama masuk tempat parkir, saya sudah melihat betapa ramainya kendaraan yang terparkir, apalagi di dalam? Mungkin lebih ramai. Dan ya, memang benar, keadaan di dalam studio lebih ramai. Saya mulai khawatir tidak kebagian tiket malam ini. Dan ternyata benar saja, di atas loket pembelian tiket terpampang jelas tulisan “tiket iron man 2 hari ini sudah habis”. Kami kecewa. Lalu kami berunding sejenak di sofa dekat kaca yang langsung menembus pemandangan mobil-mobil yang berjejer rapi di luar.

Kira-kira begini lah perbincangan kami:

Gimana ini? Apa kita harus pulang? Jangan. Sayang banget udah keluar malem gini, tapi gak jadi nonton. Terus? Mau nonton apa? Wah, kalo film Hachiko gue udah nonton. Yang laennya gak seru kayanya. Terus mau nonton apa?ke studio 21 aja yuk. Ntar dulu, kita buka 21cineplex.com. jam 21.10 “menculik miyabi”. Gimana nih? Mau nonton ini aja? Jangan dong, gila aja, masa gue nonton itu? Kaga suka, ngeri. (saya menolak). Tenang aja ndi, filmnya gak kaya gitu ko. Iyah ndi, udah nonton itu ja lah, daripada gak jadi nonton. Iya iya, terserah kalian deh, gue ngikut ajah. (akhirnya, saya menyerah).


20.50 kita berangkat menuju amplas. Tepat pukul 21.10 kita sampai tujuan. “pertunjukan film di teater empat sudah dimulai. Bagi yang sudah memilki tiket harap segera memasuki teater empat.” ‘Penyiar radio’ bioskop sudah cuap cuap, “menculik miyabi” sudah dimulai.

Udah mulai filmnya, masih mau nonton po? Sayang tau. (saya mencari-cari alasan). Baru mulai ndi, gak papa.


Akhirnya, kami mengantri. Masyarakat teater 4 ternyata sudah sangat ramai, kami kebagian kursi tengah agak di depan. Ya, ternyata film baru saja di mulai. Kami tidak begitu telat. Saya mulai mensugesti pikiran saya kalau film ini bagus dan menyenangkan, namanya juga komedi.

Film terus berjalan, ternyata saya menikmatinya. Bukan karena body sang miyabi dan mi you bi yang antic. Tapi, karena tingkah laku 3 pria idiot di samping saya. Hahaha. tapi ternyata, tingkah laku 3 pria idiot di samping saya dapat dikalahkan oleh 3 pria looser di dalam film yang kami tonton. Hampir di setiap adegan mereka, para penonton seantero studio tertawa terbahak-bahak, mereka sangat konyol. Saya pun tidak melewatkan kesempatan untuk ikut tertawa. :D


Wow. NIKI TIRTA ??? o.O

Seorang anggota 3 pria looser itu adalah NIKI TIRTA. Artis idola saya sejak saya SMP. Kenapa saya mengidolakannya? Pertama, karena dia ganteng. Kedua, dia cute. Ketiga, dia manis. Ke empat, dia keren. Wowowowowowow. Saya langsung antusias dengan film ini. Saya mulai menikmati film ini karena dia. Ya, kenikmatan yang saya rasakan adalah ketika saya melihatnya berakting dengan sangat cool di film itu. Hehehe


Oh ya, hampir saja saya melewatkan untuk bercerita tentang film itu. Saya tidak pernah membaca synopsis film itu. Menonton trailer nya pun saya tidak pernah. Tapi, saya sudah langsung bisa menangkap alur ceritanya dari awal hingga akhir. Kisah film ini menurut saya standar, ya, seperti FTV” di SCTV saja. Tapi, salah satu pemeran utama dalam film ini lah yang membius banyak orang untuk menonton film ini, yaitu MIYABI. Siapa yang tidak mengenal MIYABI? Artis Jepang yang terkenal karena parasnya yang cantik dan keberaniannya untuk memerankan adegan-adegan tak senonoh. So, setelah saya tonton, peran MIYABI di sini tidak terlalu banyak. Adegan-adegan yang ia perankan juga tidak terlalu panas seperti yang saya atau mungkin banyak orang bayangkan. Lalu, apakah para penonton pria kecewa dengan hal ini? Bisa saja iyah atau bisa saja tidak bagi mereka yang memang tidak begitu mengidolakan artis yang satu ini.


Terlepas dari kisah film “menculik miyabi” ini, saya sangat menikmati film ini karena DIA. Tak sampai tega saya memejamkan mata ketika film berlangsung karena DIA. Tak berhenti saya merdecak kagum ketika melihat parasnya yang membuat saya berandai-andai. Hahaha

SOSOK SEORANG BANG JOE

Suasana menjelang magrib. Langit sore hari ini memang sedang tak bersahabat. Sejak tiga jam yang lalu, hujan sudah meramaikan kota. Namun, aku dan seorang temanku tetap harus pergi menemui klien. Ya, kami berdua adalah mahasiswa skm bulaksumur ugm yang bergerak di divisi ikrom-iklan dan promosi. 30 mei nanti UKM kami akan mengadakan acara ulang tahun ‘aksi kreasi’. Kami membutuhkan stand kuliner untuk mengisi acara. Kami sebagai Danus-dana usaha-ya seperti inilah kerjanya, mencari sponsor dan partnership. Jam empat sore kami sudah membuat janji dengan seorang Klien, tetapi karena hujan, kami sedikit terlambat. Jam empat lewat 15 menit kami baru melaju ke tempat klien di Jakal KM 6,8. Sekitar pukul setengah lima sore, kami sampai. Akan tetapi, orang yang kami cari ternyata tidak ada.

“misi mas, mau ketemu mas dwi, ada?”
“oh, mas dwi nya lagi pergi sebentar mba, tunggu aja dulu, telpon aja”
“oh gitu, yauda mas, pesen es mocca satu ya mas”
“ok”

Mas Dwi, adalah klien yang ingin kami temui. Angkringan es merupakan usaha yang digelutinya. Aku menyebutnya angkringan karena tempatnya di pinggir jalan dan tidak terlalu besar, mirip angkringan pada umumnya. Kami pun duduk di atas kursi plastic yang sudah di sediakan. Ketika kami menengadahkan kepala 45 derajat ke atas, kami sudah bisa melihat ada empat blender, keju kraft bertumpuk-tumpuk, dan susu cair kaleng yang banyak. Kami pun menikmati cara karyawan es tersebut mengolah es yang kami pesan.


Tak lama di sela kami menunggu, ada seorang laki-laki berkulit agak hitam, rambut pendek (baru tumbuh sedikit sehabis di cepak), tidak terlalu tinggi, dan kurus, dengan lengan penuh tatto datang memasuki angkringan tersebut. Sekilas mungkin perawakannya agak menyeramkan, tetapi ternyata orangnya sangat humoris. Karena banyak pelanggan yang memesan, ia pun ikut serta membantu. Setelah pelanggan mulai sepi lagi, kami coba untuk membuka obrolan agar Susana tidak ‘krik..krik..’ alias sepi.

“mas, kenapa nama es nya ‘bang Joe’ ?”
“ouh, awalnya dari nama saya mba,”
“Loh? Ouh..mas yang punya toh?”
“iyah mba..”
“terus, mas dwi itu siapa mas?”
“mas dwi itu bagian marketing kami mba”

Ya, itulah awal obrolan kami dengan sang owner ‘BANG JOE’. Sungguh aku sendiri tidak menyangka dia yang ku kira sedikit menyeramkan ternyata pemiliknya, padahal pertama kali dia datang aku sempat mikir dia preman daerah situ, hehe.

BANG JOE

Namanya Joe, kami memanggilnya mas Joe. Entah nama aslinya Joko, Joyo atau apalah, dia tidak mau memberitahu. Pria muda ini berumur 30 tahun, asli bandung. Wow, orang Bandung bisa buka usaha hebat di Jogja. Itulah kesan pertama ku ketika mendengar dia asli sunda. ‘Bang Joe’, nama angkringan es yang ia bangun sendiri. Siapa yang tidak tahu es ini? Angkringan ini sudah tersebar sampai negeri Solo. Di Jogja saja, lebih dari lima tempat di isi oleh es Bang Joe. Kita dapat dengan mudah menemuinya. Bisa dibayangkan berapa omsetnya pertahun dengan banyaknya cabang yang Mas Joe miliki. Pasti sangat besar. Es ini mungkin hanya berwadahkan gelas plastic, bentuknya seperti milkshake, dibubuhi susu coklat, butiran coklat dan keju di atasnya. Tetapi, Bang Joe tak pernah sepi pelanggan.

ANAK JALANAN

Mas Joe mungkin sekarang sudah tercukupi hidupnya, malah bisa menghidupi orang lain. Namun, tidak pada masa lalunya. Mas Joe adalah satu dari ribuan anak yang kurang beruntung. Awalnya, ia hanya seorang anak jalanan. Bukan anak jalanan yang bawaannya mobil, bukan juga anak jalanan yang bawaannya motor, bukan. Sepedapun Mas Joe tak punya. Ia hanya seorang anak jalanan yang bermodalkan semangat.

Ia tak pernah mencicipi bangku SMA atau Kuliah. Terakhir ia sekolah, di sebuah SMP di Bandung, tempat asalnya. Setelah itu, ia coba-coba untuk merantau ke Jogja.

“di Jogja tinggal dimana mas?”
“nebeng di rumah temen mba, “

Ya, ia bersyukur masih memiliki teman yang berbaik hati membagi rumahnya.
Beberapa waktu kemudian, ia sadar tidak bisa menumpang terlalu lama, ia harus berjuang untuk tidak bergantung dengan orang lain. Suatu ketika, ada seorang temannya yang memiliki modal dan ia menyuruh Mas Joe untuk membuat sebuah usaha serta mengolahnya. Dari sinilah awal perjuangan mas Joe membangun ‘es Bang Joe’.

RAMBUT GIMBAL

Sekilas aku ingin bercerita tentang perawakan Mas Joe dulu. Dulu, sekitar tujuh tahun yang lalu, rambut mas Joe tidak pendek seperti sekarang, tetapi Gimbal. Ya, kamu bisa bayangkan rambut almarhum Mbah surip, seperti itulah. Rambut gimbal yang panjang. Rambutnya tak begitu saja menjadi gimbal. Pada dasarnya ia memilki rambut yang lurus, tetapi ia gunakan alat untuk menggimbal rambutnya sendiri. Dan ia berhasil bertahan dengan rambutnya selama tujuh tahun.

“awal aku mendirikan es Bang Joe ini aku masih gimbal loh mba.”
“ouh…kenapa es nya gak di namain es Bang Gimbal ja mas?”
Hahahahha kami tertawa, aku, temanku dan mas joe. :D
“ya, kalo udah pendek kaya sekarang gimana mba, gak bisa di bilang bang gimbal lagi ntar”
“iyah juga ya mas, hehe..emang gimbalnya kaya gimana sih mas?”
Perlahan ia keluarkan sebuah foto dari dompetnya. Ia pun menunjukkan fotonya pada kami. Wow, ada seorang wanita cantik berkacamata, berambut panjang dan sedikit agak gemuk duduk di sebelahnya.
“ini siapa mas? Pacar?”
“iyah..hehe”
“wah, cantik mas.”
“amiiin..”

Iseng kutanya dengan sampo apa ia mencucui rambutnya, apakah dengan sampo kucing seperti halnya almarhum mbah surip gunakan? Ternyata tidak, ia menomor satukan konsumen.

“Kalau pakai sampo kucing, ntr konsumen pada kabur semua kebauan, ya pake sampo bisaa aja mba”
Begitulah perbincangan kami tentang rambut Gimbal.

TEMAN

Membangun sebuah usaha bukan tanpa pengorbanan. Mas Joe yang membangun sendiri usahanya dengan modal dari seorang teman. Tetapi, setelah modal dapat dikembalikan, hubungan pertemanan Mas Joe dan sang pemilik modal agak merenggang. Menurut mas Joe, temannya tidak puas dengan hasilnya, bahasa kasarnya ingin meminta lebih dari ini. Akhirnya, Mas Joe memisahkan diri dari temannya tersebut. Akhirnya, sampai sekarang mas Joe meneruskan usahanya ini sendiri tanpa ada hutang dengan orang lain.

Ya, bagi Mas Joe ini adalah tantangan terberatnya. Menurutnya, teman ya teman, tidak ada yang namanya bekas teman. Kalau sekedar hubungan berteman, ya masih baik-saja, tetapi kalau dalam misi, mereka berdua sangat berbeda.

Mas Joe adalah seorang teman yang memiliki rasa solidaritas tinggi. Dari masalahnya dengan sang pemiliki modal, kita bisa lihat, ia tetap berjuang untuk menjalin pertemanan meski berbeda misi yang sebenarnya hampir menjauhkan dia dengan temannya itu.

Selain itu, Mas Joe sangat solider dengan teman sesama perantauan dari Bandung. Semua karyawannya samapi di Solo, adalah temannya sesama perantau dari Bandung. Ia tidak pernah mau menyebut teman yang menjadi karyawannya sebagai ‘karyawan’, tetapi teman ya teman, tidak ada karyawan. Salut, aku sangat salut dengan prinsipnya.

Keberhasilan atas usahanya tersebut tidak Ia nikmati sendiri. Dulu, ia menumpang di rumah temannya, tetapi sekarang, ia sudah bisa memberi tumpangan orang lain di rumahnya sendiri.

Ya, banyak hikmah dan pelajaran yang bisa kita dapat dari seorang ‘Bang Joe’. Anak jalanan yang berubah menjadi pengusaha sukses walau tak memakan bangku SMA ataupun kuliah. Dengan semangat dan kerja keras kita bisa berhasil. Asal ada kemauan, semua dapat dengan mudah kita raih. Mimpi…ayo kita bermimpi !!! karena semua berawal dari mimpi.

Setelah Mas dwi datang, obrolan kami pun terhenti, dan kami beralih obrolan tentang tujuan kami kesana.