Takdir, Kualitas dan Potensi
Kami adalah mahasiswa UGM yang pintar.
Kami adalah mahasiswa UGM yang cerdas.
Kami adalah mahasiswa UGM yang berpendidikan.
Kami adalah mahasiswa UGM yang ber”duit”.
Boleh saja semua kalimat bak pantun yang tak sistematis itu terlontar dari mulut orang-orang yang kurang akan ilmu pengetahuan, bukan IPA bukan IPS, melainkan ilmu pengetahuan seperti Experience. Mereka yang tak pernah berada pada posisi yang sama seperti kami. Mereka yang hanya melihat kami secara empiris. Mereka yang memliki perspektif Positivistik.
Kami sebagai objek yang berkaitan, ternyata tak demikian faktanya. Kami ya kami. Mahasiswa biasa yang di tempatkan Tuhan di dalam UGM lewat berbagai macam jalur. Entah PBS, UTUL, SNMPTN, atau PB” lainnya. Bukan masalah uang ataupun otak. Semua itu hanya jalan kami menuju takdir yang telah di tetapkan Tuhan.
Nyatanya, tidak sedikit dari kami yang mendapat kalimat-kalimat pembangun diri dari orang-orang yang lebih berpendidikan dan berpengalaman, yang tentunya memiliki posisi lebih tinggi di atas kami. “kalian tidak memiliki potensi. Kerja kalian sangat parah. Hasil ujian kalian buruk. Kualitas angkatan kalian tidak lebih baik. Presentasi kalian jelek. Atau lain sebagainya.” Ya, itulah sedikitnya kalimat demi kalimat yang pernah mereka lontarkan di hadapan kami. Tidak kah kalimat itu membuat perpektif kalian berubah wahai pencipta pantun tak beraturan ?
Beberapa dari kami tidak pernah menginginkan tempat kami yang sekarang, tapi beberapa dari kami malah menginginkannya dan merasa senang di dalamnya. Akan tetapi, tahukah kalian? Ada eksistensi kami yang menjadikan kami terjebak. Ya, kami menginginkan tempatkan kami pada awalnya, tapi tidak pada akhirnya ketika kami benar-benar berada dalam tempat tersebut. Kami terjebak. Itu lah yang sekarang ingin kami tekankan dalam kisah kami.
Kami merasa tak pantas. Cita-cita kami mungkin hanya akan menjadi cita-cita, bukan realita. Awalnya kami optimis akan meraihnya setelah kami menjadi sarjana. Tapi, seiring berjalannya waktu kami dalam menempuh pendidikan disini, kami merasa tidak cocok atau bahkan tidak pantas dengan apa yang sudah kami impikan. Impian hanyalah impian. Kami pesimis. “Tak memiliki kualitas dan potensi”. Itulah hal yang membuat kami begini. Kalimat itu yang selalu terngiang di telinga kami ketika seorang yang lebih berpendidikan dan berpengalaman mengatakannya depan kami. Namun, benarkah demikian adanya ? benarkah kami seperti itu ? lalu, mengapa mereka menerima kami di tempat mereka? Benarkah ini semua hanya keberuntungan belaka? Benarkah ini Takdir semata? Benarkah Takdir bertindak tanpa melihat kualitas dan potensi kami? Benarkah dan benarkah…….Semuanya membuat kami lelah. Membuat kami bingung apa yang seharusnya kami lakukan selanjutnya di tempat ini dengan nihilnya kualitas dan potensi kami?
Up Up Up and UP !!! Cheers…………… :)